Al-Aqsha Dibuka Kembali untuk Semua Warga Palestina

Al-Aqsha Dibuka Kembali untuk Semua Warga Palestina

Al-Aqsha Dibuka Kembali untuk Semua Warga Palestina

Ribuan warga Palestina kembali memasuki kompleks Masjid Al-Aqsha di Yerusalem Timur. Hal ini karena pemerintah Israel telah mencabut pembatasan usia bagi jamaah Muslim yang hendak melaksanakan ibadah shalat.

Otoritas Wakaf Islam yang mengelola masjid tersebut mengumumkan, seluruh gerbang masjid telah dibuka untuk semua warga Palestina dari segala usia, pada Sabtu (29/7). Lebih dari 10 ribu jamaah berhasil masuk al-Aqsha untuk shalat dzuhur.

Stefanie Dekker dari Aljazirah, yang melaporkan dari luar Gerbang Damaskus, mengatakan situasi di al-Aqsha sangat damai. “Ada beberapa pertengkaran di sekitar Lion’s Gate dan Wadi Joz, namun secara umum semuanya berjalan dengan relatif damai,” kata Dekker.

Sebelumnya polisi Israel telah mencegah akses masuk ke masjid untuk pria di bawah usia 50 tahun, dan menutup beberapa gerbang. Pembatasan usia tersebut baru diumumkan beberapa jam sebelum shalat Jumat dimulai.

Protes terhadap pembatasan usia ini pecah di berbagai daerah. Polisi Israel menembakkan meriam air dan gas air mata ke arah demonstran di Betlehem. Menurut Red Crescent Palestina, ada 225 kasus luka-luka di Tepi Barat dan Yerusalem.

Di Ramallah, bentrokan pecah setelah shalat di dekat pos pemeriksaan Qalandiya, salah satu pembatas utama yang memisahkan Tepi Barat dari Yerusalem. “Kami melihat pasukan keamanan Israel menggunakan granat serta banyak gas air mata,” kata Scott Heidler dari Aljazirah, yang melaporkan dari Qalandiya.

Ketegangan semakin meningkat di Yerusalem Timur, dengan adanya kehadiran militer Israel. Warga Palestina telah melaksanakan ibadah shalat di luar kompleks Masjid Al-Aqsha selama dua minggu terakhir untuk memprotes tindakan pengamanan Israel di situs suci tersebut.

Pengamat Urusan Yerusalem, Ahmad Buderi, mengatakan warga Palestina memandang kompleks Masjid Al-Aqsha lebih dari sekadar tempat religius. “Ini adalah tempat kita bertemu, tempat kita mengubur orang mati, tempat kita menikah. Ini adalah tempat sosial kita, di sinilah kita bermain sepak bola di sore hari,” ujar Buderi.

Menurutnya, warga Palestina bertanggung jawab untuk melindungi masjid tersebut. Sementara ia mengaku dunia Arab dan Islam tidak dapat berbuat apa-apa. “Orang-orang Palestina bergabung bersama, dan melupakan perbedaan politik dan sosial mereka, dan itulah cara kami menang,” katanya.

 

Sumber : www.republika.co.id

About Author

client-photo-1
Jasmina Experience

Comments

Leave a Reply